22 November 2018

Menjadi Dewasa



Tentang mendewasa, apakah umur adalah patokan dari sebuah sikap yang disebut ‘dewasa’? Bagi saya, tidak. Umur bukanlah sebuah indikator yang pas untuk mengukur seseorang bisa dikatakan sudah berada ditahap dewasa. Banyak orang sekitar kita yang berada di umur yang matang tapi secara mental belum cocok untuk menyandang predikat dewasa. Lantas, apakah saja indikator kedewasaan seseorang?

Secara pribadi, saya melihat tingkat kedewasaan seseorang dari bagaimana ia menghadapai sebuah persoalan. Apakah Ia masih melihat dari satu sisi-nya saja, ataukah sudah bisa melihat dari berbagai sisi yang lain. Mereka yang belum bisa dibilang dewasa sering melihat suatu persoalan hanya dari apa yang dialaminya, kerugian yang didapatnya tanpa tabayyun atau mengkonfirmasi apakah pihak lain benar bersalah atau ternyata ia juga bagian dari pembuat masalah itu sendiri. Seseorang yang sudah bisa dikatakan dewasa akan bijak menanggapi masalah yang terjadi, Ia tidak akan gegabah memutuskan segala sesuatunya, bersikap tenang tanpa menyalahkan pihak lain seenaknya. Ia akan introspeksi pada dirinya, mengakui letak kesalahannya bila ia memang bersalah bukan menuduh dan mengumbar aib saudaranya.

Selain itu, tingkat kedewasaan juga bisa dilihat dari tutur kata seseorang, bagaimana ia bisa menempatkan kalimat-kalimat yang diutarakannya di waktu dan tempat yang tepat. Karena seperti kata pepatah “mulutmu harimaumu”. Lidah tidak bertulang tapi lebih tajam dari pedang. Banyak perdebatan dan kehancuran terjadi berawal dari lidah yang mengeluarkan kata-kata yang tidak berkenan. Kita boleh bercanda dengan sesama teman, tapi haruslah diingat jangan sampai kelewatan. Apa yang dianggap lucu oleh kita, kadang menyakitkan bagi orang lain. Jadi bijaklah dalam berkelakar, tidak semua topik layak untuk dijadikan candaan.

Dewasa berarti harus dapat mengontrol emosinya. Hari ini bukan saatnya bertengkar hanya demi hal-hal kecil apalagi sampai berujung ke pertengkaran fisik. Bukan lagi masanya pertengkaran diselesaikan dengan cara anak SD atau dengan cara premanisme. Masih banyak cara beradab untuk menyelesaikannya. Seseorang yang berjiwa besar pastinya akan memilih cara-cara berkelas tanpa harus terjadi pertumpahan darah. Mirisnya, dinegeri kita tercinta saat ini orang-orang yang mengaku dewasa tapi tidak tercermin dalam kepribadiannya. Alhasil, banyaknya persoalan tidak diselesaikan secara baik-baik. Ya, cekcok masalah kecil dibawa ke ranah publik, saling hujat di media sosial karena perbedaan pandangan, menebar hoax, dan masih banyak lagi.

Honestly, tulisan ini adalah sebuah renungan untuk kita semua. Untuk kita yang mengaku memiliki pandangan dewasa. Terutama untuk saya secara pribadi. Dalam masa transisi dari fase remaja menuju dewasa. Banyak hal yang harus dipelajari untuk benar-benar bisa bersikap dewasa dan bijak dalam menanggapi suatu peristiwa. Bagi saya tidak ada orang yang akan stabil di masa dewasanya, akan ada saat dimana ia kembali bersikap labil layaknya pada fase remaja dan anak-anak dulu. Namun, apakah itu akan bertahan selamanya? Tentu tidak. Yang bisa kita semua lakukan hanyalah mengontrol diri kita untuk tetap bersikap dan berprilaku sesuai dengan koridor yang berlaku, dan kembali lagi menjadi pribadi yang dewasa. Mari mendewasa bersama!!!

22 Juli 2018

Forum Indonesia (Menikah *ehh) Muda

FIM 20 Solo


Keluarga sejatinya adalah sebuah ikatan dari hubungan darah. Namun, definisi keluarga tidak sesempit itu, bagi saya keluarga adalah sekumpulan individu yang bersama-sama saling mendukung, berbagi, mengingatkan, dan saling menyayangi karena Allah. Pekan lalu, sebuah keluarga besar terbentuk. Berasal dari empat provinsi berbeda, kita bersama-sama ditempa dalam satu wadah yang istimewa. Belajar dari orang-orang hebat nan menginspirasi, bersatu mengikat tali silaturahim untuk kemajuan negeri.

Kita boleh beda, tapi nyatanya perbedaan yang menyatukan kita. Kita satu, satu visi misi untuk berjuang bersama. Pemuda-pemudi hebat yang siap jadi punggawa terbaik bangsa. Bergerak bersama untuk sebuah karya indah yang kelak bisa bermanfaat untuk ummat seluruh alam semesta. Aamiin…
FIM JOSS (JOGJA)
Kang Ahmad Heryawan berpesan, dua hal yang harus dibangun oleh seorang Pemimpin adalah “Membangun keshalehan individu juga membangun keshalehan sosial”, “Pemimpin besar, lahir dari ide atau pemikiran besar pula”.

Lantas, sudahkah kita menjadi sosok pribadi diatas? Mungkin belum, tapi kita harus tetap belajar dan terus belajar.

“Melihat masalah jadi peluang untuk menciptakan solusi” Ahmad Dzaky. Kita boleh gagal ribuan kali, tapi kegagalan itu yang membuat kita belajar untuk tetap teguh berdiri.

“Karena kita adalah impian-impian yang telah kita ucapkan, maka tanggung jawab kitalah untuk mewujudkannya” -Teh Heni Sri Sundari-.

“Baik untuk menjadi orang penting, tetapi penting untuk menjadi orang baik, dan baik untuk menjadi orang yang benar” –Teh Gina Rahmalia-.

FASIL KELOMPOK 2
Jangan berjalan sendiri, berat. Kita adalah saudara, tempat belajar dan berbagi. Bersama-sama melangkah untuk satu asa.

“Ingatlah, orang disamping kanan kiri depan belakangmu saat ini bisa jadi Ia adalah orang terdepan yang akan mendukung ide brilianmu” –Kang Coki Ishraqi-.

Kata Mang Ibrahim Imaduddin Islam, “membuat suatu project yang baik haruslah didasari dengan elemen SMART dari George T. Doran yaitu specific, measurable (terukur), achievable (dapat dicapai), relevant, dan time-based (tenggat waktu).”

Dan yang tepenting “Lurusin lagi niatnya” -Mbak Triana Rahmawati-.

Terakhir,ingatlah pesan Pak Sudirman Said, “ada empat hal yang harus dipegang teguh dalam kehidupan yaitu integritas, kompetensi, networking, dan terus belajar”.

“Jadilah pribadi yang unbelieveable, bukan hanya sekedar Basic. Berikan respon terbaik dalam menanggapi suatu kejadian”-Kang Harry Firmansyah-.

ADVENTURE JOURNEY
Sebagai alumni FIM, kita harus berpegang teguh dengan 7 pilar karakter dan 7 pilar kepemimpinan yang diajarkan Pak E’ dan Bunda. Dua orang hebat yang tak henti-hentinya menebar inspirasi dan keteladanan.
POWER RANGER BB.06
Kita adalah keluarga yang saat ini sedang bertumbuh bersama. Menapaki medan juangnya masing-masing untuk satu cita, Cinta untuk Indonesia. Kita dipertemukan bukanlah suatu kebetulan, melainkan ada alasan, bagian dari skenario terbaik dari Tuhan. Walau jarak membentang, tapi jiwa-jiwa kita telah mengakar dalam satu sanubari, satu rumah dalam Forum Indonesia Muda. Rasa rindu kadang melanda, tapi ingatlah ada doa-doa melangit sebagai penawarnya. Selamat menapaki jalan mimpi, wujudkanya dengan dedikasi tinggi dan ketulusan hati. Aku untuk Bangsaku !!!!

4 Maret 2018

Jangan Lupakan Kang Haneul, “Forgotten” : Sebuah Film Cerdas



            Korea Selatan, kiblat dunia Kpop dan dramanya yang mengagumkan. Namun, film layar lebarnyapun tidak kalah berkualitas dan sering kali menjadi Box Office. Secara pribadi, saya lebih senang menonton film di banding dengan drama produksi negeri Gingseng tersebut. Bukan saya tidak menyukai jalan ceritanya, namun saya bukan tipe-tipe yang suka menanti episode per minggunya. Nah, dari sekian film yang pernah saya tonton satu yang menggugah hati saya untuk menulis sedikit resensi-nya. “Forgotten” atau dalam bahasa Korea berjudul 기억의 Gieokui Bam (Night of Memory) yang dibintangi oleh aktor Kang Ha Neul dirilis pada November 2017. Film ini di sutradarai dan ditulis oleh Jang Hang Jun. Seorang sutradara kawakan yang juga pernah menyutradarai drama sukses Pinocchio. Berdurasi sekitar 109 menit, film bergenre Thiller/Mistery ini menyajikan alur yang tidak terduga dan begitu menegangkan.

            Awal cerita bermula saat Jin Seok diperankan oleh Kang Haneul sedang berada didalam mobil bersama dengan Hyeong Yoo Seok (Kim Moo –Yul), Ibu Na Young-Hee, dan Ayahnya Moon Sung Geun menuju kekediaman barunya. Jin Seok sangat mengagumi Hyeong-nya sebagai sosok kakak yang sangat sempurna dan serba bisa. Mereka hidup dalam keluarga yang harmonis tanpa masalah apapun. Namun, dirumah baru tersebut ada satu kamar yang tidak boleh dimasuki siapapun karena masih terdapat beberapa koper dari pemilik lama yang masih tertinggal. Jin Seok seringkali mendengar suara-suara aneh keluar dari kamar tersebut. Namun, tidak seorang pun yang percaya karena penyakit neurasthenia yang dideritanya. Hingga suatu malam ia benar-benar curiga, lalu hendak membuka kamar tersebut. Tetapi gagal karena ditenangkan oleh kakaknya. Jin Seok dan Yoo Seok pergi keluar menikmati suasana hujan didepan rumah. Namun, peristiwa tak terduga terjadi, dalam perjalanan pulang Hyeong diculik oleh segerombolan pria dan dimasukkan dalam mobil van.

Tidak ada informasi spesifik yang dapat membantu polisi untuk menemukan keberadaan Yoo Seok. Sampai pada hari ke sembilan belas, Yoo Seok kembali kerumah dengan keadaan baik. Tetapi, Jin Seok menemukan keanehan dalam diri Kakaknya. Saat malam tiba, Yoo Seok menyelinap pergi dari rumah menuju markas dikawasan kumuh. Ia menemukan bahwa Polisi yang menindaklanjuti kasus penculikan sebelumnya tampak berbincang dengan Yoo Seok dengan penuh rasa hormat. Semakin mencurigakan, Jin Seok melanjutkan investigasi namun ia tertangkap oleh dua pria dan pengejaran pun tak terelakkan. Ji Seok berhasil lolos dari mereka, namun seseorang tiba-tiba menyergap dari belakang. Ia bangun, dan telah berada di ranjang kamarnya seperti semula. Jin Soek semakin curiga karena kaki pincang Yoo Seok berubah menjadi sebelah kanan, padahal awalnya sebelah kiri. Ia meyakini Yoo Seok sekarang bukanlah Hyeongnya yang sesungguhnya. Jin Seok tidak sengaja mendengar percakapan Ibu dan Ayahnya ditelepon tentang cerita yang dikemukakannya siang tadi mengenai karakter Kakaknya yang berubah. Perbincangan keduanya tapi seakan-akan mengarah pada penyamaran yang akan segera terbongkar karena Jin Seok telah mencurigai gerak-gerik mereka. Jin Seok merasa telah dijebak dikeluarga buatan yang telah memanfaatkannya sehingga Ia memutuskan untuk kabur dari rumah besar penuh tanda tanya tersebut.

Film ini sedikit membingungkan penonton, apakah kejadian yang dialami oleh Jin Seok ini apakah hanya imajinasi ia belaka akibat penyakit yang dideritanya. Karena setiap peristiwa kejangalan yang dialaminya, selalu berakhir saat ia membuka mata di pagi hari. Penonton juga sulit untuk menebak kemanakah arah film ini nantinya. Forgotten, sebuah film cerdas menurut saya. Film yang menyajikan alur yang berbeda dari yang lainnya. Akhirnya bahkan tidak pernah disangka-sangka. Sutradara sangat handal dalam mengolah setiap kejadian sehingga membuat penonton selalu berdebar-debar saat menontonnya. Jangan lupakan bakat akting Haneul yang sangat ciamik. Ia sangat pandai membawakan karakter Ji Seok yang polos dengan penyakit mentalnya, sikap hangat seorang adik kepada kakaknya tiba-tiba berubah menjadi seorang yang putus asa sehingga rela menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhannya. Film ini juga memiliki alur dengan rentan waktu yang lama, yaitu sekitar 20 tahun. Sutradara pintar mengelabuhi penonton dengan usia Jin Seok yang sebenarnya serta mengaitkan dengan kejadia-kejadian yang tak terduga. Big applause deh. Begitupun Kim Moo Yul, Na Young-Hee, dan Moon Sung Geun dua karakter mereka perankan dengan baik dan sukses. Akting dalam akting begitu saya menyebutnya. Latar cerita keluarga selalu membuat saya tak pernah bosan untuk menyaksikannya.

Film genre Misteri/thriller seperti ini kerap menghadirkan perkelahian, pengejaran dan pembunuhan. Namun, saya pribadi menyayangkan setiap kejadian pengejaran dalam film ini memiliki akhir yang mirip. Tiga kali setidaknya Jin Seok dikejar-kejar, dua diantaranya memiliki latar, kejadian dan akhir yang sama. Selain itu, saya menyayangkan kenapa harus ada sosok wanita mengerikan yang mengejutkan saat Ji Seok sedang meringkuk ketakutan pada sepuluh menit awal film diputar. Selain nggak ada nyambungnya sama cerita selanjutnya, dan nggak dijelaskan siapa dia, saya pribadi menyesalkan kenapa harus ada scene ini. Tetapi, Sutradara sukses bikin saya berteriak kaget dan menghadirkan debar-debar ketakutan serta membuat saya menduga-duga kapan si embak bakalan muncul lagi dan apakah sebenarnya genre film ini, Horor atau Thriller kah?. Selain itu, saya sangat menyesalkan dengan akhir ceritanya. Saya pikir tidak semua keputus asa-an harus diselesaikan dengan kematian. Seperti kita ketahui bahwa tingkat kematian akibat bunuh diri di Korea Selatan cukup tinggi. Alangkah lebih baik bila ending film ini di buat sedemikian rupa agar membantu masyarakat Korea Selatan sadar jika semua masalah dan keputusasaan bukan diselesaikan dengan cara bunuh diri.

So far, apakah film ini bagus atau tidak? Apakah recommended untuk ditonton berapakah rate-nya menurut saya? Film ini layak dan sangat recommended. Bukan hanya ada Haneul ya, tapi memang film ini cerdas dan bagus banget buat ditonton. Kalau ditanya 1 sampai 10, aku bakal kasih nilai 8,5 buat film ini. Moral value-nya juga banyak. Salah satunya, jangan menghalalkan segala cara buat mendapatkan apa yang kita inginkan atau butuhkan. Pasti ada cara yang lebih baik dibandingkan harus mengorbankan orang lain. Tidak semua kebahagiaan dan kesenangan berasal dari harta, utuhnya keluaga juga adalah sumber kebahagiaan. Dan seperti yang saya sebutkan diparagraf sebelumnya bahwa jalan keluar dari putus asa bukanlah bunuh diri. Okay.
Sekian yaw, semoga bukan spoiler... :)

23 Februari 2018

Suplemen Mengerjakan Skripsi, Mau???

Halo, aku mau kasih sedikit tips nih buat temen-temen yang lagi berkutat sama Skripsinya. Langsung aja yuk, Check it Out :

1.      Luruskan Niat
Mengerjakan Skripsi harus diawali dengan niat yang tulus ya gaes. Niatnya jangan macem-macem. Niatin untuk ibadah kepada Allah. Karena Skripsi adalah bagian dari menuntut ilmu, dan menuntut ilmu hukumnya wajib. Jadi, sebelum memulai menuliskan kalimat-kalimat di Skripsi alangkah lebih baik bersihkan niat dan jangan lupa untuk membaca bismillah dilanjut sama doa sebelum belajar. Okeeeh.

2.      Fokus
Fokus, salah satu kunci suksesnya Skripsi. Sebagai mahasiswa tingkat akhir kadang sebagian dari kita masih disibukkan dengan kegiatan komunitas, organisasi, kerjaan ataupun urusan yang lain. Kita boleh kok multi fokus tapi tetep harus ngerti mana prioritas yang utama mana yang harus dikesampingkan terlebih dahulu supaya hasil yang didapatkan juga dapat maksimal. Bukan meninggalkan sepenuhnya, namun mengurangi intensitasnya.


3.      Jangan Males
Nah ini masalah yang paling sering menghantui para pejuang skripsi. MALAS, ya ampun sifat yang kerap menghambat semua aktivitas dan nggak ada obatnya ini memang biang kerok semua kegagalan. Sulit banget kadang ngelawannya. Eh, ditambah lagi si malas kerjasama sama nafsu (lah, malas kan anaknya nafsu). Kita kadang lebih seneng buka handphone buat eksis di media sosial ketimbang baca bahan buat skripsi, kadang lebih pilih tidur-tiduran seharian atau kongkow-kongkow unfaedah sampai larut malam. Yah, kita mah manusia biasa yang terlena dengan nafsu dunia. Eittss, jangan menyerah mari kalahkan si Malas. Gimana caranya? Kontrol diri sendiri adalah cara yang utama, sugestikan bahwa dirimu bisa melakukan sesuatu lebih dari apa yang kamu pikirkan. Hindari pikiran negatif, dan buka terus file skripsimu ya. At least, dipantengin dulu, dibaca ulang lagi barangkali inspirasi muncul seketika.


4.      Bikin Kerangka Skripsi, Pakai Post Note atau Apapun
Setelah membuat rencana arah skripsi jangan lupa untuk menuliskannya. Bikin kertas-kertas kecil atau post note kerangka per bab-nya terus tempelin didepan meja belajar. Misalnya di bab dua kamu mau bahas tentang A, tulis juga sub bab yang mendukung pembahasan itu. Tujuannya supaya planning kita terarah dan pembahasannya nggak melebar kemana-mana. Jadi, kita fokus membahas topik yang akan kita buat tanpa tercampuri oleh bahasan yang lain.

5.      Atur Waktu
Secara pribadi, aku bukan tipe orang yang mengerjakan Skripsi sampai begadang, terlebih memang aku nggak tahan tidur malam. Jadi, aku lebih memilih mengerjakan Skripsi selepas Sholat Shubuh sampai sekitar jam delapan pagi. Tiap hari aku coba untuk membuka laptop. Walaupun cuma baca setidaknya tidak merasa berdosa jika satu hari tidak mengerjakan skripsi. Terus abis baca, kadang belum dapet inspirasi. Buka internet bukan untuk baca referensi, tapi buat YouTube-an..WKWKWK…Aku mah gituh, hiburan dikala Skripsi-an cuman ngeyutube. Setidaknya, luangkanlah beberapa menit dari 24 jam waktumu buat si manis Skripsweet. Kalian bisa ngikutin cara aku, ngerjainnya ba’da Shubuh. Biasanya kalau masih pagi otak masih fresh dan belum terkontaminasi macem-macem jadi inspirasi akan lebih cepat masuk…Eyakkk Atau kalian tipe Kalonger’s (re:kelelawar) yang akan lebih produktif saat orang-orang sedang tidur. Monggo, pilih yang mana, yang terpenting kamu selalu ada waktu untuk Skripsimu. Hehehe


6.      Buat Target
Targetan ini butuh banget buat memotivasi diri agar semangat mengerjakan skripsi. Aku selalu kasih target perbulan. Misalnya, akhir bulan Oktober Bab II harus beres, penelitian nggak boleh lebih dari sekian minggu, atau dibulan November target Bab IV selesai. Aku tipe orang yang berorientasi sama target dan harus sesuai. Sehingga, aku selalu menggebu-gebu untuk mengejarnya bahkan sampai titik darah penghabisan. Prinsip aku, “Selama masih bisa dikejar (diusahakan), akan tetap berlari sampai batas akhir pengejaran”. Haseek.. Setelah target didapat biasanya aku kasih reward ke diri aku sendiri. So, semangat ngejar target bukan hanya ngejar gebetan.


7.      Deketin Dosbing
Iyuups, setidaknya kita punya kedekatan sama Dosbing kita. Tempat kita berkeluh kesah sama masalah perskripsian, tempat kita berkonsultasi, dan tempat kita mendapatkan tanda Acc. Beliaulah yang paling bertanggung jawab dengan baik buruknya Skripsi kita selain kita sendiri tentunya. Sempatkan waktu untuk meminta arahan dari beliau dan saat bertemu beliau kamu harus bisa meyakinkan bahwa yang kamu tulis itu sudah sesuai dengan realita dan fakta yang ada, penjelasan kamu terperinci serta jangan ngebantah secara frontal didepan beliau sekalipun kamu benar. Buat bahasa yang sopan dan tahu kondisi beliau. Apalagi kalau dosbing kamu terkenal killer, kamu harus pinter-pinter cari mood terbaik beliau supaya lebih gampang dapet Acc dan nggak banyak diomelin. Hehehe


8.      Relax (Tau Kapan Istirahat, Jangan Forsir Diri)
Mahasiswa tingkat akhir yang semangatnya luar biasa kadang lupa waktu buat istirahat. Mengerjakan Skripsi berhari-hari tanpa tidur, lupa makan, memforsir diri. Hey, inget tubuh kamu juga butuh istirahat. Jangan sampai habis mengerjakan Skripsi langsung tumbang masuk Rumah Sakit. Nah, nanti yang repot siapa? Banyak euyy. Ingat waktu, ingat makan, ingat istirahat, ingat sholat, ingat ngaji. Hehehe
Dibawa santai tapi selesai, Selo tapi rampung, Bro…



9.      Tempel Kata-kata atau Foto Penyemangat
Trust me, it works…Bukan iklan L-Men yakkk. Honestly, beneran deh ini ngaruh banget ke pribadi aku. Kata-kata motivasi yang ada didepan meja belajar, dinding samping kasur, sampai kamar mandi adalah salah satu penyemangat dikala mengerjakan Skripsi. Contohnya, satu hari menunda skripsi satu hari pula menunda mimpi. Ingat, Skripsi itu mudah yang susah itu masuk surga. Teman-teman bisa tempel foto orang tua atau orang tersayang sebagai motivasi agar Skripsi cepat selesai sebagai suatu persembahan untuk mereka.



10.  Doa (Ayah Ibu)
Selain cara-cara diatas, satu terakhir ini tak kalah pentingnya, Doa. Setelah semua yang telah kita usahakan baiknya ditutup dengan doa. Terutama doa dari Ibuk dan Ayah kita. Jangan lupa untuk selalu meminta doa restu kepada mereka setiap kali mengajukan Bab, tiap kali seminar proposal maupun sidang pendadaran. Sungguh, doa orang tua terutama Ibu sangatlah mustajab. Jangan ragu untuk selalu meminta kebaikan kepada mereka, tapi jangan lupa buat mendoakan meraka juga ya. Siip…


Ya, itu tadi suplemen yang bisa temen-temen jadikan referensi saat mengerjakan Skripsi. Semoga dapat membantu ya. Semangat pejuang Skripsi…!!!!

5 Februari 2018

Skripsweet or Skripsh*t ???


        S.K.R.I.P.S.I….??? Tujuh huruf dalam satu kata yang sering menghantui Mahasiswa tingkat akhir. Salah satu jalan untuk terbebas dari teori perkuliahan yang didapat dan mengaplikasikannya dalam bentuk kalimat deskriptif. Skripsi, sebuah jembatan untuk memperoleh gelar keilmuan yang telah ditempuh selama tiga sampai empat tahun atau bahkan lebih semasa perkuliahan. Skripsi menurut KBBI adalah sebuah kata benda yang berarti karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya.

Sebenarnya, tidak semua kampus mewajibkan Mahasiswanya untuk membuat karya tulis ilmiah sebagai syarat akhir mendapatkan gelar akademiknya. Beberapa kampus ternama diluar negeri seperti Oxford tidak menerapkan Skripsi, tapi mereka memakai beberapa ujian yang berlangsung sekitar tiga mingguan. Itu yang aku tau sedikit dari Vlognya kakak cantik Maudi Ayunda. Kembali lagi ngomongin Skripsi ya. Dulu, waktu awal-awal masuk kuliah banyak dengar slentingan-slentingan dari Kating (re: kakak tingkat) tentang betapa menyiksa dan menyulitkannya si Skripsi ini. Sampai-sampai ada yang tumbang ditengah jalan. Melambaikan tangan ke kamera, “aku nyerah aja ah”. Tapi, dari banyak keluhan, ada juga yang menjalani Skripsi adem ayem aja. Iya, santai tapi dikerjain. Nah, mereka yang nyelow tapi keep doing ini yang aku jadiin panutan saat ngerjain Skripsi beberapa waktu lalu.

Menulis Skripsi bukan hal yang sulit tapi juga nggak gampang. Kadang banyak kerikil-kerikil atau tikungan-tikungan tajam didepan. Dari awal saja kadang harus kesandung duluan, contohnya judul skripsi yang sudah pernah dipakai sama kating, atau sama teman seangkatan. Udah yakin sama topik dan judul yang mau diangkat, eh malah harus ganti lagi. Khann bikin ngedown gimana gitu. Kadang juga ada kasus nggak nemu-nemu inspirasi mau angkat topik apa, atau kurang yakin sama judulnya terus akhirnya mentok, nggak dapet inspirasi. Ada juga yang udah yakin sama judulnya, eh dosbing (re: dosen pembimbing) nggak nerima suruh ganti lagi. Iya kalau langsung dapet, nah ini harus berkontemplasi, semedi berhari-hari berbulan-bulan –janganlah- buat nemuin judul baru. Kasus lain, udah bikin sampai proposal eh dosen penguji ngebantai pas seminar proposal, suruh ganti keseluruhan. Ahhh, greget krenyes-krenyes, kriyuk-kriyuk deh. Ada juga Dosbingnya yang sulit banget ditemuin, karena agenda keluar negeri, keluar kota, ngurus ini itu, lagi kuliah dan masih banyak kegiatan beliau-beliau tersayang. Hambatan bukan hanya datang dari faktor eksternal, tapi hambatan yang paling berat itu dateng dari diri kita sendiri. Bagaimana kita melawan sifat buruk yang terlanjur melekat, yaitu MALAS. Aku yakin ini salah satu problem terbesar mahasiswa tingkat akhir saat menyelesaikan karya ilmiahnya. Ya, fase naik tangga emang nggak mudah, berat (biar aku saja. Heleehh korban Dilan -_-‘) melangkah keatas memikul beban, belum lagi halangan dan rintangannya. Kan, mau jadi seseorang dengan kualitas lebih baik, jadi ujiannya juga harus lebih sulit.

Nah, aku bakal ceritain gimana proses ngerjain Skripsi based on my experience yaw. Jadi, sejak semester dua aku udah kepikiran mau ngambil topik apa pas Skripsi di semester tujuh nanti. Gils, lu baru semester dua udah mikirin skripsi aja dek?. Hal itu karena pada suatu pagi aku bertemu sama mbak-mbak dari UNDIP di Masjid Kampus yang mau penelitian sama dosen HI UMY. Beliau banyak cerita dan kasih wejangan buat aku si mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa ini. Sampai pada akhirnya kita ngobrolin masalah skripsi. Topik Skripsi beliau tentang paradiplomacy, dan salah satu pakarnya ternyata adalah dosen HI UMY, notabenenya adalah dosen favorit aku. Dari pertemuan singkat itulah, akhirnya inspirasi itu muncul dan bertahan. Di Semester 6, ada mata kuliah Seminar Hubungan Internasional. Mata kuliah ini isinya kayak Metodologi Penelitian Sosial dijurusan lain, cuman namanya aja lebih kerenan dikit (no offense J). Mata kuliah ini outputnya yaitu proposal skripsi sekitar 70% fix. Karena topik paradiplomacy masih mengisi satu ruang dihati dan otakku, maka aku putuskan untuk melanjutkannya lalu berfokus pada kerjasama Sister City antara Kota Bandung dan Seoul. Alhamdulillah, topik dan judul Skripsi pilihanku tunggal, nggak ada yang ngembarin. Mata kuliah selesai, 70% proposal skripsi juga selesai.

Semester 7 telah datang, sedangkan aku masih berada diujung utara negeri. Menunaikan kewajiban salah satu tridarma perguruan tinggi, yaitu mengabdi pada masyarakat, KKN atau bahasa kerennya Community Services. Skripsi apa kabarmu? Ah entahlah…Sampai pada pertengahan September aku telah kembali ke Jogja, siap untuk bertempur dengan skenario perskripsian. Disaat jurusan lain di kampus sudah bergelut dengan bimbingan, kita anak HI masih terombang ambing menanti kepastian pembagian Dosbing. Malahan, anak Fisipol kampus sebelah sudah penelitian, sedangkan aku dan teman-teman seperHI-an masih bertahan menunggu kabar dari jurusan. Nggak ngerti sih, kenapa bisa selama ini prosesnya. Padahal mereka nyuruh kita buat cepet-cepet lulus, tapi dosbing tidak kunjung diberikan. Ya, memang proses administrasi selalu memperumit. -_- Baru pada awal Oktober kepastian itu datang, nama-nama dosen pembimbing sudah keluar di KRS (Kartu Rencana Studi), dan Alhamdulillah dosen inceran kudapatkan, sesuai dengan topik dan kebutuhan aku, thanks God.

            Kehidupan perskripsian telah dimulai, kegabutan telah berakhir. Jujur, awal bikin skripsi stress level bertambah. Ada kegalauan menghampiri, apakah benar-benar judul ini akan berhasil, apakah datanya mencukupi, apakah judul ini worth it, dan banyak apakah-apakah lainnya. Kadang ngeliat judul teman yang keren-keren sempet ngerasa minder. Tapi, aku sudah memulai separuh perjalanan masa mau kembali kegaris awal lagi? Akhirnya, aku teruskan saja. Bab I sudah selesai, walaupun dihiasi oleh peluh dan air mata. Huhuhu, kekhawatiran jika proposal ditolak saat seminar bikin aku jadi was-was dan kadang tidur nggak nyenyak, sampai-sampai kebawa mimpi terus tiba-tiba skripsinya selesai pas buka mata. Akhirnya, aku seminar proposal pertengahan November. Senengnya pas seminar itu banyak masukan dari dosen penguji, malahan dikasih gambaran nanti di bab selanjutnya bakal bahas apa aja. Tak henti-hentinya syukur selalu dipanjatkan kepada Allah, dosbing dan dospeng semuanya kooperatif, selalu kasih saran yang membangun.

Akhir November aku berangkat penelitian ke Bandung, untungnya aku bersama teman yang topiknya sama jadi kita selalu kemana-mana berdua. Ngurus perizinan ke Kesbangbol DIY, Kesbangpol Ja-Bar, Kesbangpol Bandung, sampai akhirnya ke Kasub Kerjasama Pemkot Bandung tempat penelitian kita. Dari hati yang terdalam, aku sangat berterimakasih buat semua pihak di Bandung yang telah memperlancar perjalanan dan penelitian, Seriously, orang Bandung nggak Cuma cakep sama cantik doang tapi mereka baikkk bangett. Selama penelitian aku nyambi nyelesein Bab II sama Bab III, yang Alhamdulillah datanya bisa didapetin di Kantor dan website resmi pemkot Bandung. Tapi, Bab III yang membahas tentang Seoul itu source-nya sedikit sekali. Alhasil aku harus menelusuri website pemkot Seoul dengan bahasa Hangeul dan buku-buku yang harus diterjemahkan ke Inggris dulu, lalu ke Indonesia. Riweuh sih, tapi ya mau gimana lagi satu-satunya jalan ya harus dilewatin walau banyak duri yang menghadang.

“Tidak ada yang lebih tabah, di banding Mahasiwa tingkat akhir saat Skripsi”

Kabar berhembus, batas akhir pendaftaran Sidang Skripsi tanggal 12 Desember. Perasaan campur aduk apakah bisa kamu menyelesaikan target awalmu Na, atau haruskah kamu mundur untuk Yudisium dibulan Mei tahun depan? Bab II dan Bab III sudah selesai, tapi saat menyelesaikan Bab IV, data-data kurang mencukupi. Masih banyak yang harus dibahas, sedangkan aku mentok dihalaman ke lima Bab IV. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung menghubungi pegawai Kasub Kerjasama Pemkot Bandung untuk mengulik serangkaian informasi pelengkap via WA. Walaupun secara informal beliau selalu menanggapi semua pertanyaan yang aku ajukan dan menjawab sebagaimana aku butuhkan. Sungguh, semoga kebaikan selalu dilimpahkan atas beliau. Aamiin.

Senin 11 Desember bersama teman seperjuangan aku ajukan bab iv sampai lampiran. Tidak mudah, kami butuh bolak-balik untuk memperbaiki dan merapikan dari halaman judul hingga lampiran. Hari itu kami hampir menyerah, kami tinggalkan bundelan skripsi diatas meja dosbing. Hanya doa yang bisa aku panjatkan, barangkali dihari terakhir besok ada keajaiban. Wallaa, pukul tujuh pagi handphone berdering, dosbing mengirim foto dua bundel Skripsi bertandatangan dan dertuliskan ACC Ujian Skripsi. Alhamdulillah, hanya sujud syukur yang terpikirkan saat itu. Betapa bahagianya, pengejaran ini hampir pada akhirnya. Terkadang doa yang kita panjatkan langsung diijabah oleh Allah SWT, dibayar tuntas saat itu juga tanpa ditunda. Dan aku telah membuktikannya. Sungguh maha besar Allah.

Ujian penentuan masih dipuncak penantian, menunggu untuk dituntaskan. FYI gaess, dari belibetnya urusan Skripsi justru lebih ribet urusan daftar mendaftar keadministrasian. Harus towaf kampus buat ngurus ini itu, persyaratan Toefl, slip pembayaran, foto, cetak skripsi, sertifikat dll sebagai tiket masuk ujian pendadaran. Setelah berhasil daftar ujian Skripsi, ademlah suasana hati, tinggal belajar mengontrol detak jantung yang deg-degannya tak tertahankan karena ujiannya empat hari kedepan. Sungguh secepat kilat, nggak tau lagi segala prosesnya dipercepat dan justru menuju hari H ujian segala urusan dipermudah. Begitupun saat ujian berlangsung segalanya dipermudah, baru juga jelasin bab I udah “cukup” langsung masukan dari dosen penguji. Lah, ini Sidang skripsi apa proposalan. Sebenarnya secara pribadi belum puas kalau nggak ngejelasin sampai akhir, tapi apalah daya dospeng sudah paham betul mengenai hasil di bab iv, ya sudahlah ini mungkin kemudahan dari Allah berkat doa-doa Ibu disepertiga malamnya. Orang-orang terbaik disekitar kehidupanku selalu mendukung dan memberi ruang untuk konsentrasi penuh menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih pada seluruh pihak yang telah terlibat di penulisan Skripsi hana. Lah, kok malah kayak halaman persembahan gini sih. Hehehe


Jika diliat lagi kisah hidup skripsian aku kayaknya gampang banget dan cepet banget. Aku juga baru sadar saat semua fase ini sudah berakhir. Mulai dari topik yang mudah, dosbing yang super duper nyaman dan baik banget, penelitian yang dipermudah, dosen penguji yang luar biasa baiknya dan masih banyak kemudahan-kemudahan lain. Aku jadi ingat setiap kali ada yang bertanya “Han, mau wisuda kapan?”, “Periode terdekat”, “Emang masih bisa?”, “InsyaAllah, selama masih bisa mengejar ya dikejar semampunya”. Taraaa…Semua prasangka, planning, perkataan positif dikabulkan oleh Allah yang Maha Baik. Jadi, intinya target boleh, usaha harus doa jangan lupa plus selalu kelilingi diri dengan aura yang positif. InsyaAllah, semua yang diusahakan akan sebanding dengan hasil yang didapatkan. Selalu semangat ngerjain Skripsi, jangan mau temenan sama yang namanya males, jujur itu sifat yang nempel lengket banget dan sulit dilepaskan bahkan sampai sekarang. Jangan sungkan buat ngechat dosbing duluan, SKSD aja, tapi masih dalam batas kesopanan loh ya…Semoga teman-teman yang sedang dalam masa skripsian dipermudah dan dilancarkan urusannya. . Jadikan Skripsimu semanis rasa ketika berjumpa dengan dia, Selamat bersripSweet riaa... :) 

5 Oktober 2017

Keluarga Ketemu Gede "Kisah Rumah Balap F1"





F1 Quares Squad~

Ini ceritaku...
Kami tinggal di sebuah rumah yang seperti surga. Bagaimana tidak? Magnet-magnet kebaikan selalu datang masuk ke rumah ini. Kita tinggal berenam, tapi hampir setiap hari selalu bertambah jumlahnya. Tamu-tamu langganan selalu hadir mewarnai isinya. Rumah keluarga dengan polesan crayon berwarna warni.




Rumah ini tidak pernah sepi, ada alunan lagu bermacam genre, ada lantutan murotal, ada teriakan-teriakan saat nonton horor bareng, ada diskusi ringan setelah sholat jamaah, ada obrolan khas yang hanya kita yang tau. Kita habiskan waktu tiga tahun bersama-sama. Belajar, menangis, bersenang-senang, berantem, curhat dsb. Keluarga ketemu gede, katanya. Kita memang nggak punya ikatan darah, tapi kita dipersatukan dalam satu ikatan ukhuwah.




Waktu terus berjalan, kita terus bergerak. Satu persatu akan pergi, aku tak sanggup. Kata pisah bagiku bukan hanya sekedar kata biasa. Lebih dari makna sesungguhnya. Lantas, mengapa harus ada perpisahan dan pertemuan? Karena kita harus belajar, tidak ada yang benar-benar abadi dan kekal. Kita diajarkan untuk membuat pertemuan itu jadi kenangan indah saat berpisah. Kita diajarkan tentang rindu kedua, ketiga, keempat..dst setelah perpisahan. Kita diajarkan untuk selalu mendoakan mereka disetiap tengadah tangan pada Tuhan.




Kelak kita akan berpijak ditanah pilihan sendiri, kembali pada tanah kelahiran, merantau keujung negeri, mengibarkan sayap di negeri orang, ataupun tetap berada di tanah istimewa yang telah mengarjakan segalanya. Kita akan membangun negeri dengan spesialisasi dan keahlian masing-masing dengan tetap menjunjung nilai-nilai agama, moral dan budaya. 
Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu saudara sampai ke surga~ Aamiin



Hayo, siapa ya yang bakal nyebar undangan duluan????

21 September 2017

“SIAK SRI INDERAPURA” THE HIDDEN PARADISE IN RIAU

 Setiap perjalanan selalu meninggalkan kenangan, cerita dan pelajaran -HA
Istana Siak nampak dari kanan depan

Bagi aku, Siak adalah the hidden paradise-nya Riau. Butuh waktu sekitar tiga jam dari pusat kota Pekanbaru dengan melalui beribu hektar perkebunan sawit dikanan dan kiri jalan yang berkelok dan sedikit berbatu untuk sampai di kabupaten Siak. Kalau mau dinyanyiin ala lagu anak-anak tuh kira-kira “ Pegi-pegi ke kota Siak, jauh- jauh sekali…Kiri kanan kulihat saja banyak pohon sawitnyaa aaa, kiri kanan kulihat saja banyak pohon sawitnya”. Yah kurang lebih gitu yak. Sebenarnya enggak terlalu jauh sih, cuman kita terbiasa pergi dengan durasi waktu selama itu untuk keluar Provinsi. Kalau di analogikan di Jogja, kita udah sampai Semarang (Jateng) atau Magetan (Jatim). Tapi ini masih dalam satu Provinsi Riau, alangkah luasnya tanah Sumatra.
Kenapa memilih Siak ???
Lagi-lagi ini semua karena promosi sang MC comel bedelau saat pembukaan FSDKN XVIII di Universitas Riau dan Bapak Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau. Mereka memaparkan mengenai satu istana yang menjadi backdrop panggung kala itu. Istana Siak namanya. Disana terdapat alat musik yang sangat langka, KOMET. Kabarnya sih, cuman ada dua di dunia. Di Istana Siak dan di Museum Jerman. Nah, kita jadi penasaran bagaimana bentuk komet itu sesungguhnya. Apakah sama dengan komet dilangit??? Iya, sama karena mereka adalah bintang dari jenisnya sendiri. Opotoh, Na…
Alat musik Komet sejenis gramophone dibawa oleh Sultan SIAK ke XI tahun 1896 selepas melawat ke Eropa
            Siak, kota tempat peradaban melayu di tanah Sumatera, tempat salah satu jalur kawasan perdagangan Internasional yang menghubungkan Riau, Malaysia dan Singapura. Memiliki sumber daya alam yang melimpah dari sektor migas, pertanian, perkebunan dan pariwisata. Itu sedikit informasi tentang profil Siak. Nah, nggak heran kan kalau kita menjatuhkan hati buat melancong di negeri yang dulu menyumbang ribuan guldennya demi terciptanya Negara Republik Indonesia.
            Kita memulai perjalanan dari UNRI sekitar pukul satu siang, setelah acara FSDKN selesai dan melaksanakan sholat dzuhur di Masjid Arfaunnas. Kita memilih jalur perjalanan alternatif untuk menghindari kemacetan, yang bisa aku baca dari baliho dijalan kita melewati Kabupaten Kampar dan seterusnya perkebunan sawit yang luas. Satu jam perjalanan kita masih asik menikmati pemandangan luasnya perkebunan, berlanjut di fase yang mulai membosankan kita setengah terlelap dan berharap bangun sudah sampai tujuan. Namun, apalah dikata mobil masih melaju menyusuri jalanan yang berliku. Dua jam tiga puluh menit kita akhirnya memasuki kawasan kabupaten Siak. Kita disambut dengan megahnya Jembatan gantung Sultanah Lathifah yang aku taksir panjangnya hampir 1 kilometer (CMIIW), dari atas jembatan kita bisa melihat kapal yang melintasi Sungai Siak yang cukup jernih dikelilingi oleh hutan yang rimbun dan masih asri. Di sudut-sudutnya dapat terlihat atap-atap gedung perkantoran menyembul dari pepohonan hijau. Sungguh indahnya. Tata kotanya sangatlah kental dengan budaya melayu, warna keemasannya tak luput dari pandangan mata.


Tangga menuju istana ke lantai dua
Kita menuju ke destinasi utama, yaitu Istana Siak. Letaknya tepat berada didepan alun-alun Kota yang menghadap langsung ke Sungai Siak. Tiket masuknya sekitar sepuluh ribu rupiah. Tapi sayang kita datang di tiga puluh menit sebelum Istana ditutup. Jadi, waktu untuk berkeliling Istana sangatlah singkat. Saran nih, buat temen-temen yang mau main ke Istana Siak sebaiknya time managementnya dipasin banget. Kalau dari Pekanbaru aku saranin dari pagi deh karena perjalanannya juga jauh dan supaya keliling-keliling Siak-nya lebih puas serta bisa explore lebih banyak tempat-tempat indahnya. Di Istana Siak kita menemukan apa yang kita cari selama ini, Komet. Bentuknya aneh dan aku bingung gimana cara maininnya. Tapi, setidaknya rasa penasarannya telah terbayar dengan menatapnya langsung. Didalam Istana banyak barang-barang peninggalan zaman dahulu. Ada alat pemutar piringan hitam (vinyl) yang bentuknya unik sekali. Ada baju-baju raja, piagam penghargaan dan masih banyak lagi. Istana ini seperti Museum tapi berbentuk rumah, ada dua lantai namun saat itu kita belum berkesempatan untuk naik ke lantai atasnya. Karena kita telah diperingatkan petugas Istana yang akan menutup tempat ini, maka kita segera untuk keluar. Memotret pemandangan sekitar istana menjadi pilihan, bergaya bak putri raja juga tak anyal dilakukan. hewhew.
Istana Siak nampak dari depan


Selanjutnya, kita berjalan menyusuri alun-alun Kota. Di minggu sore itu banyak warga yang menghabiskan waktu disana. hiburan anak-anak begitu banyak macamnya, dari mobil-mobilan listrik, scooter dan taman-taman bermain mini. Aku dan kawan-kawan memilih untuk pergi menepi, menuju pavilion dipinggir sungai. Kita bisa melihat jembatan Sultanah Lathifah dengan background sunset yang menawan. Karena waktu semakin sore kita memutuskan untuk segera kembali. Namun, kita tak melewatkan untuk berhenti sejenak di tengah Jembatan saat sinar mentari benar-benar akan memudar. Senja terakhir di Riau, bisik hatiku. Take me back here, soon. Perjalanan pulangpun dimulai, kembali menyusuri jalan yang mulai gelap karena minim penerangan, sehingga membuat kita juga ingin ikut menutup mata. Kita sampai kembali didaerah Panam Regency, Pekanbaru pukul Sembilan malam. segera kita bergegas untuk membersihkan diri dan bersiap untuk sholat lalu beristirahat karena besok pagi kita harus kembali pulang ke Jogja. Time is up, gaes. Jogja telah menanti, deadline tugas memanggil, ujian telah didepan mata. Back to our routine activities. Kembali pada realita, berkompromi pada kenyataan yang ada, karena liburan (bukan sekedar liburan) akan segera berakhir. Terimakasih kepada Shofi sekeluarga yang sudah mengenalkan Siak ke kita. Terimakasih para promotor-promotor kunjungan ke Riau ini. InsyaAllah amal baik kalian dibalas oleh Allah SWT. Aamiin. Semoga suatu saat bisa kembali menginjakkan kaki di tanah Melayu. 
Masyarakat menghabiskan waktu senja di alun-alun Kota tepat didepan Istana Siak

Jembatan yang membelah sungai Siak di malam hari